» » SUBHANALLAH...SUNGGUH MULIA HATI SEORANG IBU..!! Kisah Perjuangan Ibu Jadi Kaki untuk Sang Anak. ((TOLONG SHARE))

SUBHANALLAH...SUNGGUH MULIA HATI SEORANG IBU..!! Kisah Perjuangan Ibu Jadi Kaki untuk Sang Anak. ((TOLONG SHARE))

“Kaki ibu ini sebagai ganti kakimu,” ucap Tatik Sakilah kepada sang putra, Erry Susilo. Perempuan 47 tahun itu sadar betul, anaknya tak mampu berjalan. Sejak kecil, remaja 16 tahun itu memang lumpuh.

Dan Tatik terus memegang janjinya itu. Dia benar-benar menjadi “ kaki” Erry. Ke mana pun mereka pergi, Tatik selalu menggendong Erry.
Seperti siang itu. Keduanya menumpang ojek. Mereka menuju sebuah lorong di salah satu sudut Kota Yogyakarta. Sesampai di ujung lorong, ojek itu berhenti. Tatik turun dan langsung menyandarkan tubuh Erry ke punggungnya.

Tubuh Erry sepenuhnya berada di punggung Tatik. Sembari menggendong Erry, wanita itu berjalan menyisir lorong. Langkahnya terhenti di sebuah rumah mungil berukuran 5x4 meter yang terletak di Ledok Tukangan DN2/143 Danurejan, Tegal Panggung, Kota Yogyakarta.

Rumah itu milik orang. Keduanya sudah sejak 2003 lalu tinggal di rumah mungil itu. mengontraknya. Ke kamar itulah Tatik menurunkan Erry. Dia dudukkan di kursi, sebelum akhirnya mengendurkan dasi dan membuka kancing seragam Erry.

Erry tidak bergerak ke manapun. Dia menderita kelumpuhan mulai leher hingga sekujur tubuhnya. Untuk bergerak, dia mengandalkan bantuan sang ibu.

Saat lahir, Erry tumbuh sebagai anak yang normal. Bisa dikatakan, Erry kecil adalah anak yang sangat aktif. Tetapi, kondisinya berubah saat menginjak kelas III Sekolah Dasar.

“ Kelas III SD, Erry tiba-tiba saat jalan sering jatuh karena kakinya lemas dan hanya merangkak,” kata Tatik.
Melihat kondisi Erry, Tatik menempuh pelbagai cara demi bisa menyembuhkan putranya. Tidak hanya ke dokter, Tatik pun pernah mendatangi pengobatan alternatif di Yogyakarta, bahkan ke Klaten, Jawa Tengah.

Berobat ke sana sini tentu menghabiskan banyak uang. Bahkan Tatik sampai menjual rumah di Purworejo. Tetapi, Erry tak kunjung sembuh. “ Sampai habis-habisan, rumah dijual pokoknya demi anak sembuh saya lakukan,” ucap Tatik

Situasi menjadi semakin sulit ketika salah satu dokter spesialis saraf menyatakan Erry mengidap muscular dystrophy (DMD) atau degenerasi otot. Hingga saat ini, obat penyakit tersebut belum ditemukan.
“ Katanya tidak ada obatnya, hanya kasih sayang orangtualah yang akan menguatkannya,” kata Tatik.

Setiap hari, Tatik selalu berada di samping Erry. Ia kerap bangun di malam hari ketika Erry mengeluh pegal dan ingin berganti posisi tidur.
Saat ini Erry tidak bisa mengerakkan kepalanya sendiri. Padahal, tiga tahun lalu Erry masih bisa menggelengkan kepala dan mengangkat tangannya.

"Kalau ingin buang air besar, malam hari pun saya gendong ke kamar mandi, jalan kaki agak jauh, dekat Sungai Code. Di kontrakan kan tidak ada kamar mandinya," kata Tatik.
Saat duduk di Sekolah Dasar Lempuyangan Kota Yogyakarta, Erry berangkat dan pulang sekolah dengan digendong ibunya.

Ketika Erry sudah beranjak SMP dan SMA dan lokasi sekolahnya jauh, Tatik pun harus menyewa ojek untuk mengantar dan menjemputnya.
Saban hari, Tatik harus membayar sebesar Rp 25.000 untuk ojek ke dan dari sekolah. Sebulan ia membayar Rp 650.000.

Jumlah itu diakuinya sangat berat sebab penghasilannya dari membuat serta menjual roti tidak menentu. Sementara ia masih harus membayar uang kontrakan sebesar Rp 500.000 per bulan. Belum lagi biaya untuk hidup sehari-hari.
"Ya, harus utang kanan-kiri kalau pas tidak ada uang. Soalnya pesanan roti atau snack tidak pasti ada. Tetapi ya ada saja rezeki itu datang, saya yakin Allah pasti memberi jalan," kata Tatik.

Sering kali tatkala tidak mempunyai uang untuk membayar ojek, Tatik menggendong putranya jalan kaki ke SMA Negeri 11. Kurang lebih satu jam ia berjalan melewati trotoar.
Di usianya yang tidak muda lagi, Tatik harus beberapa kali berhenti di pinggir jalan untuk beristirahat sambil mengatur napas.

"Di jalan, yang bikin hati saya 'greeeg' saat Erry bertanya, 'Ibu capek? Ibu malu enggak gendong Erry? Ibu semangat, ya," tutur Tatik sambil memegang dada.
"Saya jawab, 'Ibu tidak capek gendong Erry, tidak malu. Ibu selalu ada untuk Erry'," ucapnya mengulang jawaban ke Erry.

Tidak hanya sekali-dua kali Erry menanyakan itu kepada ibunya. Remaja kelahiran 14 Januari 2000 ini memang sangat menyayangi ibunya.
Ketika ibunya sakit, Erry tidak masuk sekolah. Tidak ada yang menggantikan Tatik untuk membawa Erry ke sekolah.
Meski dalam kondisi keterbatasan fisik, Erry tidak pernah sekalipun mengeluh, merasa malu atau putus asa. Semangat belajar dan sekolahnya tinggi, nilai-nilainya pun tidak kalah dengan teman-temannya.

"Alhamdulilah, selama ini Erry selalu diterima di sekolah negeri. Rata-rata nilainya bagus, tulisannya juga bagus," kata Tatik.
Satu hal yang menghantui pikirannya adalah jangan sampai ia meninggal dunia sebelum melihat anaknya sukses. Tatik merasa takut jika tidak ada yang merawat Erry sepeninggalnya.

"Setiap kali shalat, saya minta kepada Allah agar Erry sukses dulu. Saya baru lega kalau sudah sukses dan punya istri yang merawat, itu yang saya pikirkan sampai saat ini," kata Tatik.
Kini Erry menempuh studi di kelas III IPS SMAN 11 Kota Yogyakarta. Kondisinya menjadi pelecut semangat untuk lebih baik dibandingkan orang lain.

"Menerima keadaan dan semangat menjalani hidup. Saya tidak pernah sekalipun malu atau minder," kata Erry.

Erry mengungkapkan, selama ini tidak pernah kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah maupun mengerjakan tugas-tugas. Di sekolah, Erry merupakan siswa yang ramah dan ceria.
"Tidak ada yang mengejek, teman-teman baik semua. Mereka selalu memberikan semangat," ujarnya.
Remaja kelahiran Purworejo tersebut mempunyai hobi mendesain web ataupun blog. Ia juga mahir dalam membuat desain logo.
Setelah lulus SMA nanti, ingin melanjutkan pendidikannya. Targetnya satu, ia ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).
"Semoga besok tercapai. Tapi masih bingung mau ambil Komunikasi atau Ekonomi," ujarnya.

Satu hal yang dipegangnya adalah terus berusaha meraih cita-cita dan menjadi sukses. Bekerja dan membahagiakan ibunya yang selama ini telah berkorban sangat banyak untuknya.

Kompas.com berinisiatif menggalang dukungan dari publik melalui Kitabisa.com untuk membantu Perjuangan Bu Tatik dalam merawat mimpi Erry. Donasi yang terkumpul nantinya akan disalurkan Kompas.com kepada Erry untuk dibelikan kursi roda, kaca mata, dan keperluan kuliah.

Link Donasi: 
https://kitabisa.com/supporterry

About Unknown

Hi there! I am Hung Duy and I am a true enthusiast in the areas of SEO and web design. In my personal life I spend time on photography, mountain climbing, snorkeling and dirt bike riding.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply